It’s About Job
Tulisan ini dalam beberapa hal berhubungan ma tulisan sebelumnya.
Tentang pekerjaan. Karl Marx mengatakan bahwa pekerjaan hendaknya tidak mengasingkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya (terlepas dari persoalan Marx adalah seorang materialis atau bukan, ada beberapa pikirannya yang cukup menarik). Berbicara soal keterasingan adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dimengerti.
Sebagai contoh… kemarin gw maki2 soal nasib gw dan pekerjaan yang harus gw jalanin sekarang ini. Bagaimana gw harus ngerasa puas dengan gaji gw yang kecil (jujur aja) n masa kerja yang lama. Jadwal kerja gw… Masuk jam 7pg-3sore (sekolahan), trus sorenya jam5-12mlm (editor koran). waktu tidur cuma jam1pg-6pg ArrggHHhgg (percuma juga marah2). N klao gaji ditotal, masi kalah ma org yg hidup normal-normal aja 8 jam sehari.
Sebenernya bukan curhat soal nasib, tpi ini soal pekerjaan. Ucapan2 seseorang ma gw yang bilang "Elu masih lebih beruntung.", "Lu sukurin aja dulu apa yang ada, di luar sana masih banyak pengangguran.", dan lain sebagainya justru bikin parah keadaan.
Omongan-omongan kaya gitu gw rasa intinya ngerasa kita puas dan ngerasa nyaman ma nasib. Yang bikin bete… nasib itu sendiri ternyata dibuat ma manusia lain yang mengeksploitasi gue. Eksploitasi dilakukan cukup licik dan keji dengan memanfaatkan berbagai doktrin agama… "Apa yang ada jarang disyukuri.", "Manusia ada yang miskin dan kaya.", sama doktrin sosial budaya, seperti "Kalau semua orang pengen jadi kaya, nanti ga ada orang miskin… dan orang miskin tuh… bla bla bla".
Kenapa bukan doktrin agama lain yang lebih banyak di eksploitasi kaya "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berusaha mengubah nasibnya sendiri."
(masi bersambung)